Wahahahahaha, ini ff yaoi pertama saya lhooooo~ *bangga*
Saya sebenernya lagi sebel sama jinki yang begitu mesra pada laki saya, tapi kenapa saya tetep suka onkey, sih?! >.<
Tadinya sih niatnya mau bikin yang bergenre “psychoanalyze”, ternyata saya belum bisa =.= *menyedihkan*
Karena ini ff yaoi pertama saya – dan saya agak geli-geli gimana bikinnya – maka maklumi kalau bahasanya amburadul. *lha wong nulis satu paragraph ngekek satu paragraph ngekek wkwkwkwkwk*
Sudah, saya terlalu banyak cincong. Oh iya, karena di forum SHINeendonesia ngga boleh ada yaoi, maka dari itu saya hanya ngepost di sini ^^Y
When He’s Gone
author : kimlockeydane aka icha aka ferisa
genre : fluff?
length : drabble
pairing : ONKEY yay!!
Onew aka Lee Jinki belongs to himself, his parents, SME
Key aka Kim kibum belongs to [s]herself[/s] himself, his parents, SME, and ME as HIS WIFE *digorok*
SHINee members
***
Srak… Srak… Srak…
Uhm… suara apa itu? Tidak mungkin pencuri, kan? Masa di apaertemen sebesar ini ada pencuri? Kalau ada pencuri pun pasti akan ada alarm. Hmm… lebih baik aku tidur lagi, besok akan ada banyak acara yang menanti SHINee.
Dan aku pun mencoba untuk tertidur semakin lelap. Meskipun kemudian aku sempat mendengar suara seseorang dengan samar.
“Kibum-ah, saranghae.” Kemudian kurasakan benda lembut dan dingin menyentuh keningku dan aku tertidur semakin lelap.
***
“UMMAAAA!!!”
Ugh, siapa sih?
Aku membuka mataku perlahan dan mendapati Taemin sedang duduk di sisi tempat tidurku dan mengguncang-guncang tubuhku dengan heboh.
“Waeyo, Taeminnie? Aku sangat mengantuk sekarang. Kalau mau sarapan, minta saja pada Minho.”
“Bukan itu hyung, tapi—“
“Taeminnie, aku butuh—“
“HYUNG! JINKI HYUNG TIDAK ADA!!!”
“MWO?!” Aku segera terduduk seketika itu kemudian terdiam, berpikir.
“Mungkin ia sedang berjalan-jalan pagi?”
“Aniyo, hyung. Lihat ini!” Taeminnie menyodorkan sehelai kertas. Baru kusadari ternyata Jonghyun sedang menangis di bahu Minho dan mereka duduk di tempat tidur Jinki.
Aku membaca kertas itu dengan perlahan karena aku masih memulihkan kesadaranku.
“Aish. Pabo.”
***
Sudah hampir sebulan Jinki tak juga pulang. Sudah hampir seminggu pula aku tidak banyak bicara, tidak banyak tidur, tidak banyak makan, semua yang kulakukan selama ini hanya melamun. Melamunkan orang bodoh yang dengan seenaknya meninggalkanku begitu saja.
“Kibum-ah, makan dulu,” tawar Minho sambil membawa jatah makanku.
“Nanti saja. Kau taruh saja di kulkas.”
“Tapi kau belum makan sejak—“
“Just—lakukan.”
Tak ada yang bisa menolakku tak terkecuali Minho. Maka ia pun pergi meninggalkanku dan mungkin pergi ke dapur.
Aku kembali melamun. Melamunkan hal yang sama.
***
“Kibum-ah~”
“Hm…”
“Aku ingin es krim.”
“Kau ini sedang sakit. Kau tidak boleh makan es krim. Kalau penyakitmu bertambah parah, bagaimana? Aku dan teman-teman lain tak ingin terus-menerus mengambil part-mu di show yang akan datang. Jadi sebaiknya kau tidak menyulitkan dirimu dan kembali merepotkan kami, arraso?!” ocehku panjang lebar.
“Tapi aku ingin es krim…” Ia kini malah merengek sambil mengusap-usapkan kepalanya di perutku. Aku memegang kepalanya dan mengembalikannya ke posisi semula, di atas bantal.
“NO!”
***
Kemudian bayangan lain kembali berkelebat.
***
“Chagiya, kau sakit? Wajahmu pucat,” kata Jinki sambil menaruh tangannya di dahiku.
“Entahlah. Aku merasa sangat pusing. Perutku juga mual.”
“Waaah, jangan-jangan kau…”
Aku sudah menatapnya tajam. Kalimat yang sebentar lagi akan keluar pasti bukan hal yang benar.
“…hamil?!” TUH KAN!
PLETAK!!!
Aku memukul bahunya dengan cukup keras. “Jangan bicara yang aneh-aneh,” kataku lemah.
“Kau benar-benar sakit?”
“Yang kau lihat?”
“Apa yang bisa kulakukan agar kau membaik?”
“Duduk dan diam. Jangan ganggu aku.” Aku menyandarkan tubuhku di sofa dan menutup mataku perlahan. Suara hangar bingar dari televisi di ruang tunggu sejujurnya sangat menggangguku. Tapi tak mungkin aku minta mematikannya.
“Kibum-ah…” Tanya seseorang dengan suara baritonnya yang khas.
“Hm.”
“Makan dulu, setelah itu minum obat.”
Aku membuka mataku dengan ogah-ogahan dan mendapati Jinki sedang membawa piring berisi makanan dengan lauk yang sangat menggiurkan – tapi entah mengapa tak membuatku ingin makan.
“Aaak~” Jinki menyodorkan sendoknya ke depan mulutku. Aku bergeming, tak juga membuka mulutku.
“Apa perlu kusuapkan dengan mulutku?” candanya. Aku melotot padanya dan memberikan pandangan mengancam.
Tiba-tiba Jinki menaruh piring makanan itu di sebelahnya dan jari-jarinya menyentuh daguku dan menariknya ke bawah hingga mulutku terbuka. Baiklah, aku pasrah sekarang!
***
Aku tertawa kecil mengingatnya. Lucu sekali. Ternyata selama ini aku jarang sekali akur dengan Jinki. Tapi sekalinya akur – menurut Jonghyun, Minho, dan Taemin – akan terlihat seperti pasangan yang baru saja menikah.
Membayangkan aku menikah dengannya… rasanya mustahil. Ia terlalu sempurna. Biar kujabarkan mengenainya.
Dari segi fisik, ia memiliki wajah yang imut seperti bayi. Kulitnya putih dan sangat halus—yeah, that’s why we called him “dubu”, right? Ia memiliki mata yang teduh. Mata yang selalu bisa membuatku tenang kala memandangnya. Ia memang tak seindah Minho dari segi wajah, tak sekekar Jonghyun, tak semanis Taemin, dan tak secantik aku, namun ia memiliki pesonanya sendiri yang mampu mengalihkan perhatianku dari Minho, Jonghyun, ataupun Taemin.
Ia adalah orang yang sangat sabar. Hm. Itu tak diragukan. Ia bijaksana. Tenang. Meskipun—yah—mungkin orang yang hanya melihatnya dari layar kaca tak akan menganggapnya seperti itu.
Ia adalah pribadi yang unik. Mampu menghandle semua adik-adiknya, meskipun terkadang kami yang tetap mengacuhkannya. Ia akan diam, dan kami semua akan sadar bahwa kami salah. Karismanya terlalu menyilaukan di mataku. Sebenarnya mungkin jika dibandingkan Teuki hyung, ia akan sangat berbeda. Teuki hyung adalah leader terbaik sepanjang masa di mataku. Bagaimana tidak, ia mampu menangani berbelas-belas adiknya, apalagi sepertinya tidak ada yang waras di antara anggota Super Junior, sekalipun Ryeowook hyung atau Kyuhyun hyung.
Tapi ia akan terlihat berbeda ketika aku sudah mengenalnya. Bahkan, untukku pribadi, aku akan merasa sangat kecil ketika dihadapkan dengannya. Ia terlalu memiliki pemikiran yang luar biasa, yang kadang-kadang membuat kami memutar bola mata karenanya.
Ia ceroboh. Entah itu hanya sekedar body gag atau ia memang ceroboh? Entahlah. Ia gila. Gila ayam. Mungkin jika sudah keluar dari SHINee ia akan membuat perusahaan ayam atau bahkan mungkin negeri ayam—Chiken Land—yang nanti akan mengalahkan Disney Land atau bakan holywood sekalian. Bahkan aku ragu ia akan bosan menghabiskan berton-ton ayam. Ckck. Tapi semua itu—ceroboh, gila, konyol, dan semua yang mungkin seharusnya tidak ditonjolkan sebagai leader—akan menghilang ketika suara baritonnya melekat sempurna di telingamu. Ketika ia bernyanyi, semua akan merasakan suara lembutnya. Tentu saja tak terkecuali aku.
Padaku, ia selalu bersikap baik. Ia selalu memperhatikanku. Memujiku, menurutiku, bahkan selalu mendampingiku. Ia terlalu… baik padaku. Dan kebaikannya itu yang membuatku MENGHARAPKANNYA.
Terkadang aku ingin menghindarinya. Satu yang kutakuti, aku akan mengharapkannya. Mengharapkan ia akan selalu ada di sampingku. Mendampingiku sampai kapanku. Tapi rupanya tak mungkin. Kami tinggal di satu tempat, satu kamar, satu perusahaan, satu grup, satu panggung. Semua terasa sangat sulit untuk menghindarinya.
Tapi sekarang ia pergi. Suratnya mengatakan bahwa ia lelah menjadi idola. Apalagi menjadi artis. Yah, asal kau tahu, sikap kekanakannya hanya ia tunjukkan di depan kalian, di depan layar kaca, sebagai Onew, bukan Lee Jinki. Setelah itu? Tak ada lagi Lee Jinki yang periang. Kembali ke dorm, wajahnya akan sangat lelah. Tak ada lagi matanya yang teduh, yang ada hanya mata lelah. Ia akan sangat lemah dan kami, anggota SHINee lain yang akan menjadi penyangganya. Tapi sekarang… ia bilang bahwa ia ingin pergi sejenak dari kehidupan glamour seorang idola. Ia tak ingin bertemu make up, kamera, lighting, panggung, sound system, bahkan kami. Ia memutuskan untuk pergi. Ia hanya bilang bahwa ia akan pergi SEJENAK, namun tanpa kami—maksudku anggota SHINee selain aku—ketahui bahwa ternya seorang Lee Jinki mengundurkan diri menjadi ONEW. Aku mendengarnya dari Teuki hyung yang entah darimana tahu mengenai kabar itu.
Jinki--atau perlu kupanggil LEE ONEW?!—kembalilah. Kau tega melihat istrimu—aish, aku tahu aku memang lelaki, tapi ia yang memanggilku demikian—menunggumu setiap malam? Tak makan, tak tidur, tak bersemangat?! AISH, JANGAN JADI ORANG BODOH DI SAAT SEPERTI INI!!!
“Hei, aku tidak bodoh.”
Aku menolehkan kepalaku dengan cepat menuju ke sumber suara bariton itu.
“I’m back, my wife.”
BRUK!!!
Dan tanpa sadar aku telah menubruknya dan menangis di dadanya. “Bodoh, kau jahat tahu?!”
“Hmm… rupanya kau sangat merindukanku.”
“Apa katamu?!” Aku melepaskan diri dari pelukannya.
“Lihat, bajuku basah karena air matamu.”
Aku memukul dadanya dengan keras kemudian berbalik meninggalkannya.
GREP!! Tiba-tiba ada sepasang lengan yang melingkar di perutku. Lee Jinki. Ia menyandarkan dagunya di bahuku.
“I miss you, honey,” bisiknya kemudian… CUP!!
Hwaaa!! Telingakuuuu~~
[FIN?]
Wehehehehe, bener saya ngakak pisan hahahaa :DD
Amburadul banget nih, kacau kacau kacau belum bisa bikin yaoi!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar